Di balik setiap baris kode yang rapi, setiap fitur yang berjalan mulus, dan setiap aplikasi yang berhasil dideploy—ada cerita yang jarang dibagikan: cerita kegagalan.
Dan hari ini, saya ingin membagikan satu dari cerita itu. Bukan karena saya bangga gagal, tapi karena justru dari kegagalan itulah saya belajar paling banyak sebagai seorang Full Stack Web Developer.
Proyek Ambisius, Realita yang Rumit
Dua tahun lalu, saya mencoba membangun produk SaaS kecil-kecilan—semacam platform task management untuk freelancer. Saya mengerjakannya sendiri, dari desain, backend, frontend, hingga deployment. Awalnya penuh semangat. Figma rapi. Database siap. API jalan. Tapi tiga bulan kemudian… proyek itu berhenti total. Tak pernah selesai. Tak pernah diluncurkan.
Apa yang terjadi?
Pelajaran #1: Terlalu Banyak Fitur = Bencana
Kesalahan utama saya: ingin semuanya ada sejak awal. Auth, drag-and-drop, notifikasi real-time, dashboard analytics, dan tema dark mode. Alih-alih fokus pada MVP (Minimum Viable Product), saya malah membangun segalanya sekaligus—dan kewalahan sendiri.
Tips: Bangun fitur esensial dulu. Satu fitur yang benar-benar dipakai lebih berharga daripada lima fitur yang setengah jadi.
Pelajaran #2: Tidak Ada Deadline = Tidak Ada Akhir
Karena ini proyek pribadi, saya pikir saya bisa santai. Tapi justru karena tidak ada tenggat waktu, progresnya terus mundur. Hari ini desain ulang UI, besok ganti stack, lusa coba tailwind baru—tanpa arah yang jelas.
Tips: Perlakukan proyek pribadi seperti proyek klien. Buat timeline, milestone, dan komitmen realistis.
Pelajaran #3: Tidak Menulis Dokumentasi = Bumerang
Saya sempat jeda proyek selama 2 minggu. Saat kembali, saya bahkan lupa struktur folder sendiri. Tidak ada README, tidak ada diagram alur. Waktu habis hanya untuk memahami kembali apa yang pernah saya buat.
Tips: Dokumentasi bukan hanya untuk tim. Itu juga hadiah untuk dirimu sendiri di masa depan.
Pelajaran #4: Over-Engineering Tanpa Alasan
Saya memakai Docker, microservices, dan GraphQL... padahal skalanya belum butuh itu semua. Saya lebih banyak konfigurasi daripada menyelesaikan fitur. Teknologi keren bukan berarti cocok.
Tips: Gunakan alat sesuai kebutuhan proyek, bukan ego developer.
Bagaimana Kegagalan Itu Mengubah Saya
Sejak proyek itu gagal, saya ubah cara saya bekerja:
-
Mulai dari kecil. Bangun prototipe cepat, iterasi berdasarkan feedback.
-
Gunakan todo list dan deadline pribadi.
-
Selalu tulis dokumentasi, bahkan untuk proyek satu file.
-
Evaluasi stack sebelum coding. Jangan terjebak hype.
Penutup
Proyek gagal memang menyakitkan, tapi justru di situlah saya belajar hal-hal yang tak bisa diajarkan di tutorial atau bootcamp. Kegagalan itu membuka mata saya: menjadi Full Stack Developer bukan hanya soal menguasai teknologi, tapi soal mengelola ekspektasi, waktu, dan kesederhanaan.
Jika kamu sedang berada di tengah proyek yang mulai kehilangan arah, berhenti sejenak. Refleksikan. Bisa jadi, kamu butuh langkah mundur untuk bisa melangkah lebih jauh.
Dan ingat, proyek gagal bukan akhir—tapi sering kali adalah awal dari cara kerja yang lebih bijak.